oleh

Tertatihnya Pengrajin Kulit di Desa Pakistaji Kabat

-Berita, Featured-145 views
Spread the love

Banyuwangi, (18/04/2021), Mohamad Ahlis (32 th) adalah satu dari sekian banyak Pengerajin kerajinan kulit yang mungkin masih tetap bertahan dalam kondisi sulit saat ini. Pandemic Covid 19 yang tak berkesudahan sejak setahun lebih rupanya tak membuat bapak dua anak ini menyerah dengan keadaan. Pengerajin kerajinan kulit dari dusun Kepuh, Pakistaji Kec Kabat ini tetap eksis hingga sekarang.

Meski statusnya kini hanya mengerjakan order dari satu boss saja. Artinya jika dulu Ahlis berkarya mengerjakan order sendiri dengan lima anak buahnya, dan bebas menjualnya sendiri dipasaran dengan penjualan hingga kemana-mana, maka kini pria tersebut hanya melayani satu pintu yaitu seorang pengusaha kerajinan kulit dari Jambi. Akibat pandemic Covid 19 juga,terpaksa Ahlis memangkas jumlah pekerjanya. Sehingga kini ia hanya bekerja seorang diri dengan satu asisten yg membantunya.

DSCF5158

Sejak sekitar 6-7 tahun yang lalu Moh Ahlis sudah menekuni kerajinan tas kulit,dompet kulit, sabuk kulit, dan kerajinan dari bahan kulit lainnya. Sebelum pandemic Covid 19 usahanya semula lancar-lancar saja. Dalam sehari ia mampu menjual 10-15 tas kulit dengan harga 600 ribu per pcs nya. Belum lagi kerajinan dari bahan kulit lainnya. Sehingga walaupun masih melayani penjualan berskala local banyuwangi,namun ia mampu menciptakan lapangan kerja, setidaknya bagi 5 orang anak buahnya.

Walaupun tempat usahanya tergolong terpencil namun diakui Moh Ahlis, sebelum Covid selalu saja ada yang berkunjung dan membeli produknya. Namun kini semua terasa sulit bagi Ahlis pasca pandemic covid 19. Untuk menjual sebuah produk tas dari bahan kulit dengan harga standart saja terasa berat. Tas kulit yang biasanya ia jual dengan harga 600 rb/pcs, ia jual dengan harga 400 rb/pcsnya. Menurutnya itu sangat mepet dengan ongkos produksi dan bahannya. Untungnya disaat keadaan bisnis kerajinan dari kulit Moh Ahlis yang mulai goyah, ia mendapatkan support order dari Pengusaha dan pemilik galeri kerajinan kulit dari Jambi,sehingga pria itu tak sampai gulung tikar usahanya.

Ditanya soal Bantuan modal, menurut Moh Ahlis hingga saat ini ia belum pernah merasakan mendapatkan bantuan modal baik dari pemerintah pusat maupun daerah, khususnya bantuan modal sejenis bantuan UMKM. Padahal pengerajin kerajinan kulit itu berharap dirinya bisa bangkit kembali dan menata kembali usahanya sehingga mampu menciptakan kembali lapangan kerja dibidang kerajinan dari kulit. Minimal memiliki stand atau gallery, dilokasi yg lebih strategis diwilayah desa Pakistaji. Sehingga orang lebih mudah melihat dan menjangkau tempat usahanya bila tempatnya tidak terpencil seperti sekarang. Ia berharap jika mendapatkan bantuan modal ia juga akan bekerja keras agar UMKM diwilayah Pakistaji terangkat dan terkenal melalui Kerajinan dari bahan Kulit. Semoga.(Basoeki Mohamad)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed