Gesah Ngopai Bareng dengan Tema “Kapitayan”

    0
    169

    Ada yang menarik malam itu pada jam-jam ramainya Hore coffee Milad budayawan KRT. H. ILHAM PANJI BELAMBANGAN ke 53 di rayakan sambil Gesah dan Ngopi bareng kurang lebih 65 budayawan dan pelaku seni yang rata-rata kaum milenial di Hore coffee Jl. Letnan Sanyoto 8, Tukangkayu Banyuwangi selasa malam , 9 April 2019.

    Hadir dalam acara yang dibalut dengan gesah dan ngopi bareng tersebut budayawan, perupa, sastrawan, pelaku jasa wisata, owner cafe, pelaku seni tari, teater dan mahahiswa yang peduli dengan tema yang diusung malam itu ‘ Memaknai Spiritual Kapitayan ‘ , gesah sambil ngopi itu terkesan omong kelamong ngalor ngidul namun tetap berbobot dan berisi, memaknai Kapitayan dan laku spiritualnya dari berbagai sisi, apalagi dipandu oleh moderator yang sangat sok tahu, tapi tidak menguasai masalahnya yakni Aden’ Janakim ‘ Sahlana yang mengarahkan audien dengan santai tapi gak menjurus hingga sering memancing gelak tawa yang hadir malam itu.

    Menyinggung Kapitayan seperti dikatakan Ilham Panji Blambangan yang diberi kesempatan pertama oleh Janakim “Dari sisi perkembangan sejarah Islam berkembang saat jaman Walisongo meyebarkan Islam diseluruh Jawa, bahwa para walisongo sangat menghormati budaya sebelumnya seperti ketika orang Jawa masuk Islam setelah membaca dua kalimat syahadat maka diadakan selamatan dan mengajak mereka ke langgar yang ada, mighrabnya tidak ke sanggar-sanggar pamujan seperti sebelumnya, contoh lain lagi istilah puasa berasal dari kata apuwasa ( tirakat tidak makan dan minum, red ) tidak memakai bahasa Arab syaum, keris digantikan dengan wedung dan cengkrong yang dipakai Raden Fatah raja pertama Demak dan para walisongo yang sangat memiliki alasan mendasar karena bagi orang Jawa agama itu cara beribadah kepada sang khaliq ,” sedang tradisi yang disebut diatas adalah konsekwensi dari tanah kelahiran, “jelas Ilham

    Sementara itu budayawan Aekanu sekaligus guide senior, menyampaikan dari sisi budaya dan tradisi konsep orang Jawa seperti yang menjadi menu hidangan gesah malam itu adalah buceng lulut, tumpeng dari ketan yang dilengkapi kelapa muda dan gula merah itu sangat mengadung makna filosofi dan simbolik budaya jawa, ketan yang dibentuk tumpeng atau gunungan itu melambangkan hubungan manusia dengan sang kholiq dan enten-enten; gula merah simbol ibu ada darah ketika menstruasi dan kelapa muda adalah menyimbolkan air mani dari sang bapak, maka kalau dihubungkan dengan pesan yang sangat bermakna luhur “rumaketo” seperti ketan, disamping buceng lulut memiliki pesan khusus sebagai tradisi nguri-nguri mengingat sejarah masa lalu. Itu masih di Jawa bahkan Aekanu juga menceritakan bagaimana, kuatnya suku badui anak dalam menjaga dan memelihara tradisinya yang sudah turun temurun.

    Aekanu menambahkan kepercayaan itu ada, pada diri kita masing-masing bahkan sudah diwadahi oleh Direktorat Kepercaayaan dan Tradisi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Disamping buceng lulut ada juga ketan dan ketela pohon diparut jadi ‘ sawud ‘ diberi kuah santan yang diberi durian, disebut ketan duren, di Glagah disebut sego susu.

    Menurut Budi Osing di Licin disebut Ketan Juruh, itulah yang menurut Budi jangan dilihat namanya yang penting rasanya, orang Banyuwangi khususnya di pedesaan sangat pintar mengolah berbagai menu menjadi hidangan yang sangat lezat dan bersahabat di lidah.

    Budi menambahkan “Orang Blambangan , budaya merupakan kearifan lokal, sangat erat dengan keluhuran budi. Masyarakat Osing khususnya masih sangat kuat mempertahankan tradisinya, semisal membuang kembang telon di perempatan jalan, itupun yang melakukan orang islam, melihat kenyataan semacam itu kita harus bersikap bijaksana dan lapang dada agar tatanan kehidupan dimasyarakat tentram , damai dibalut dalam multikultur, “jlentreh Budi Osing.

    Sedangkan menurut pejuang bahasa dan budaya ‘ Osing ‘ Ayong Laros, gesah dan ngopi bareng yang diselenggarakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke 53 Ilham Panjibelambangan yang berhasil mengumpulkan dan mempertemukan sekumpulan budayawan Banyuwangi seperti Aekanu Hariyono, Budi Osing, Aden Syahlana, Sinar ‘ Kenong ‘ Lintang, Momo, Udik Bejo, Fatah Yasin Noor, Samsul Kemiren, Giono Patung, Saw Notodihardjo, Hariyono Ha’o dan beberapa kaum milenial. Mereka membahas hal spiritual Kapitayan , keyakinan dan kepercayaan orang Banyuwangi jaman dahulu, mereka beda pendapat dalam debat adalah hal yang biasa, namun tetap bisa menjaga dan bersama-sama mencari tahu supaya sama-sama tahu dan memahami tentang apa itu Kapitayan.

    Hal yang paling menarik menjadi pamungkas acara gesah meski bukan menyimpulkan karena masih dilanjut sampai jam dua belas malam, adalah yang disampaikan oleh Sastrawan Fatah Yasin Noor, malam ini kita memang sepakat sama-sama tidak tahu banyak soal Kapitayan. Tapi tidak menjadi halangan tema ini diusung dalam diskusi. Diskusi ngalor ngidul yang memang perlu ketemu. Keberanian mengungkapkan pendapat, satu ciri orang bingkak. Tapi inti dari gesah ini yang hadir sepakat bahwa nilai-nilai spiritual yang membumi dan asli. Mungkin ini yang disebut Kearifan lokal. Kapitayan yang dipahami sebagai sebuah keyakinan purba orang nusantara. Ajaran Nenek Moyang yang selaras dengan ajaran tauhid. Mengesakan Tuhan. Nenek moyang dalam laku spiritual untuk mencapai keseimbangan . Ini misteri. Bagaimana nenek moyang orang Nusantara mendapatkan Karomah Tuhan merupakan petunjuk justru sebelum Qur’an dibukukan. Ajaib. Kaum milenial kurang mengenal kapitayan itu wajar. Tapi setidaknya sejumlah anak muda yang hadir telah disuguhi jajanan langka, yang diklaim Ilham Panjibelambangan sebagai makanan orang-orang kapitayan . Ada ketan duren, tumpeng ketan gulo abang degan ( buceng lulut, red ), kucur, dan makanan khas yang biasanya untuk sesaji , juga tentu kita seperti diawasi oleh keris dan boding.

    Akhirnya dalam gesah dan ngopi bareng tersebut meski bukan sebuah kesimpulan tapi moderator Aden ‘ Janakim ‘ Syahlana menyampaikan catatan yang masuk akal, diantaranya :
    Pokok ajaran KAPITAYAN:
    “Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia”.
    Kapitayan, Agama Universal Dari Tanah Jawa. Para leluhur merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIPERCAYA dan DILAKUKAN ajarannya, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya lalu menjadi sumber pertikaian dan peperangan. Oleh sebab itu, nenek moyang orang Jawa khususnya orang Blambangan sudah membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) Tertinggi serta tentang bagaimana bisa menemukan-Nya.(Ilham)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here