Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Destinasi Wisata di Banyuwangi

    0
    35

    Diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan do’a, Kemenpar RI menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Destinasi Regional II di Aston Hotel Banyuwangi, 5/8/2019. Bimtek bertema ” Pengembangan Destinasi Pariwisata melalui Atraksi Ethno Carnival ” diikuti seratus orang dari pelaku wisata, pokdarwis, budayawan, sejarawan, pemangku wisata , stekholder dan masyarakat dari berbagai desa di sekitar destinasi wisata dari berbagai penjuru Banyuwangi.

    Narasumber yang dihadirkan antara lain Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II Widayanti , Anas Tahir – anggota DPR RI komisi X Frarsi PPP asal Banyuwangi, MY. Bramuda – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi dan Taufik Razen – Kurator Calender of Event.

    Bimtek dibuka Anas Tahir Dalam sambutannya, Anas Tahir berharap peserta Bimtek memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin. Pasalnya, saat ini Banyuwangi sedang getol memajukan pariwisatanya.
    “Tolong apa yang disampaikan para narasumber disimak baik-baik. Sebab ilmu beliau-beliau ini sangat penting dan sedang kita butuhkan karena kita sedang menangani sektor pariwisata, oleh karenanya Banyuwangi sudah menyiapkan 99 calendar event pariwisata untuk tahun 2019, “ujar Anas Tahir.

    Adapun yang menjadi unggulan tahun 2019 antara lain Banyuwangi Ethno Carnival ( BEC ), Gandrung Sewu dan Tour de Ijen . Selain itu, Anas juga meminta dukungan Kemenpar mempromosikan wisata Kabupaten Banyuwangi kepada dunia luar, “Semoga Kemenpar membantu promosi event-event yang ada di Banyuwangi . Kami juga serius ingin kembangkan amenitas yang ada di Banyuwangi yaitu homestay agar pengunjung atraksi ini tidak menginap.  Kepada semua masyarakat harus mengetahui event-event yang ada dan kepada pelaku wisata selalu mempromosikan pariwisata Kabupaten Banyuwangi di semua media sosial yang digunakan,” tambah anggota DPR RI asal Muncar itu.

    Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda memaparkan strategi pengembangan pariwisata Banyuwangi, agar pariwisata lebih sering disorot dunia internasional, apalagi Banyuwangi juga sudah rutin menggelar even-even berkelas dunia.
    “Akan ada peserta dari luar negeri dan itu adalah promosi. Kita harapkan dengan adanya even berkelas internasional, pariwisata Banyuwangi makin mendunia ,” ujar Bramuda.

    Menurut MY. Bramuda, saat menginap di homestay wisatawan akan diajak berbaur dengan masyarakat setempat.
    “Ini menjadi pengalaman yang istimewa. Tidak bisa ditemukan di negara atau daerah asalnya,”
    Di homestay itu, “imbuhnya, wisatawan juga dapat ikut dalam aktivitas kehidupan warga desa setempat.

    Untuk itu, Pokdarwis akan melengkapi komponen penunjang wisata saat wisatawan menginap di homestay. Mereka dapat menjadi penutur cerita dan pemandu wisata.
    “Tamu bisa menemukan potensi asli daerah. Bisa sambil treking , experience dan tamu menikmati kearifan lokal desa itu, misal bertani, nelayan, menanam bahkan memanen atau memetik kopi, ” tuturnya.

    “Dengan bertambahnya kunjungan, bertambah pula kebutuhan amenitasnya. Homestay dapat menjadi alternatif dengan mempromosikan budaya dan pengalaman lokal yang tidak dimiliki misalnya para tamu menginap di hotel atau penginapan lain,” tambah Bramuda.

    Narasumber pamungkas yang memberi materi adalah Taufik Razen, kurator kalender of even ( tenaga ahli Kemenpar), menyampaikan informasi dirinya ikut menyeleksi 3000 even dari seluruh Indonesia menjadi 100 kemudian tinggal 10 dan Banyuwangi Ethno Carnival ( BEC) termasuk didalamnya . Menurut Taufik demokrasi budaya, ada di festival. Cirinya adalah : 1. Waktu publik; 2. Ruang publik / tempat dan 3. Drama sosial. Menjadi tugasnya ikut memotivasi bagaimana daerah-daerah menjadikan festival-festival sebagai kekuatan budaya, perayaan budaya. Menyadari kekuatan upacara sebagai karakter bangsa. Indonesia negara teater, sebuah republik upacara dimana hubungan sosial budaya dimulai dan diakhiri. Masih menurut Taufik, pariwisata adalah kontributor paling mudah dan murah bagi PDB, devisa negara menjadi lapangan pekerjaan di Indonesia, kata kuncinya jangan menjual produk tapi menjual proses berupa atraksi budaya, misal para turis dilibatkan memetik kopi, menggorengnya sampai siap dihidangkan menjadi minuman, “jlentreh Taufik.

    Dalam akhir pemaparannya Taufik menyampaikan bagaimana tolok ukur keberhasilan pariwisata bergantung pada kreatifitas dan motivasi dalam even di Banyuwangi bisa dikemas dengan packaging lebih mahal, dengan syarat : 1.Harus punya destinasi wisata, 2. Infrastruktur yang mendukung, 3. Aksebilitas, 4.Pembudayaan pariwisata, welcome, ramah dan bersih. Itulah strategi membangun ekonomi melalui pariwisata termasuk yang punya peran strategis adalah memberi motivasi kepada pelaku pariwisata, “jelas Taufik.(Ilham Panji Blambangan)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here