50 Pemuda Terpilih Dilatih menjadi Pejuang Iklim (Youth Leadership Camp for Climate Crisis 2020 di Banyuwangi dan Taman Nasional Baluran, Situbondo)

    0
    85

    Jakarta, 24 Januari 2020 – Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi manusia. Namun, tingkat kesadaran tentang perubahan tersebut masih sangat terbatas, terutama di Indonesia. Padahal, upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama bagi mereka yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, sama pentingnya dengan inisiatif mitigasi dan adaptasi.

    Seperti yang akan dihadapi oleh anak-anak muda di masa kini. Sebab mereka yang akan menghadapi risiko lebih besar dari dampak perubahan iklim di masa depan. Anak muda harus berada di garis depan untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim dengan mendapatkan pengetahuan yang komprehensif dan menyebarkannya ke generasi mereka.

    Untuk itu UNESCO Jakarta bekerjasama dengan The Climate Reality Project Indonesia (TCRPI) mengadakan “Youth Leadership Camp for Climate Crisis 2020” di Banyuwangi serta Taman Nasional Baluran, Situbondo. Pelatihan ini akan berlangsung selama 3 hari, yakni mulai hari Jumat hingga Minggu (24-26 Januari 2020).

    “Jika kita ingin mengatasi krisis iklim dan mengamankan masa depan yang berkelanjutan untuk semua, kita harus memastikan bahwa suara pemuda terdengar. Selama acara Youth Leadership Camp for Climate Crisis 2020, kaum muda dari seluruh negeri akan bertukar gagasan dan pengetahuan, serta juga mendapat kesempatan memperkuat keterampilan komunikasi mereka. Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang, para peserta yang berkumpul di sini di Banyuwangi – di Cagar Biosfer UNESCO Belambangan – akan mempraktikkan keterampilan ini. Kami menantikan untuk melihat bagaimana akan membuat perbedaan di komunitas mereka, di seluruh negeri dan juga untuk dunia,” papar Hans Dencker Thulstrup, Senior Program Specialist UNESCO.

    Pelatihan yang melibatkan 50 peserta, yaitu pemuda-pemudi terpilih dari 1.360 pendaftar ini bertujuan untuk membekali mereka dengan informasi tentang perubahan iklim, gaya hidup yang harus dilakukan agar lebih rendah karbon, dan melatih keterampilan komunikasi untuk mendukung aksi pengendalian perubahan iklim.

    “Ilmuwan menyatakan bahwa ancaman perubahan iklim atau krisis akan semakin nyata dirasakan di berbagai bidang, makin banyak bencana. Masa depan pemuda pun terancam. Mereka harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan masa depan mereka. Oleh karena itu, acara peningkatan kapasitas pemuda seperti ini penting untuk membekali mereka dengan pengetahuan, informasi dan keahlian untuk menghadapi dampak negatif. Serta berusaha untuk menginspirasi pemuda lainnya agar ikut dalam aksi pengendalian perubahan iklim,” terang Lia Zakiyyah, The Climate Reality Project Indonesia.

    Setelah pelatihan, peserta akan dikukuhkan menjadi Pejuang Iklim dan diwajibkan untuk menerapkan aksi pengendalian perubahan iklim secara langsung di lingkungan sekitarnya, terutama melalui kampanye dari akun media sosial mereka. Peserta terbaik dengan tingkat komitmen dan mampu membuat dampak tertinggi akan berkesempatan untuk mengikuti International’s Youth Forum tahun ini.

    “Kita sebagai anak muda lebih peduli terhadap lingkungan. Karena ternyata perubahan iklim itu nggak hanya terjadi setahun dua tahun. Tapi dekadenya bisa 10 sampai 30 tahun baru kita bisa ngerasain,” ungkap Fefi Eka Wardiani, mahasiswa jurusan Aquatic Bioscience, Life Sciences Faculty National Chiayi University, Taiwan.

    Mahasiswa kelahiran Jember ini menambahkan jika ia bersama puluhan peserta lain berharap dapat menyerap pengalaman dan materi mengenai perubahan iklim lebih dalam lagi di acara YLCCC 2020 kali ini. Menurutnya, kampanye melalui media sosial sangat efektif untuk menjangkau pemuda pemudi lain di selurih pelosok negeri.

    Dalam mendukung kegiatan ini, UNESCO memiliki dua cara global untuk melindungi situs alam dan menangani masalah lingkungan. Yaitu melalui Program Man and the Biosphere (MAB) dengan Jaringan Cagar Biosfer Dunia, dan Konvensi Warisan Dunia. Bagian dari pekerjaan UNESCO juga menyangkut konservasi hutan hujan tropis dan beberapa proyek baru-baru ini termasuk tata kelola kawasan lindung, perlindungan orangutan dan konservasi habitat, pengelolaan partisipatif sumber daya alam, restorasi ekosistem, pengembangan ekowisata, pengembangan masyarakat dan pengembangan adaptasi perubahan iklim dan langkah-langkah mitigasi.

    UNESCO Jakarta juga telah menangani masalah lingkungan yang lebih luas seperti bencana alam, perubahan iklim, desertifikasi, ekosistem pulau, keterkaitan antara keanekaragaman hayati dan budaya serta topik lain yang relevan dengan kawasan Asia dan Pasifik. Selain itu, kegiatan Ilmu Lingkungan UNESCO Jakarta telah menunjukkan relevansi program UNESCO dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium di kawasan ini, khususnya MDG 7 – “Memastikan kelestarian lingkungan”.

    Sementara itu, The Climate Reality Project Indonesia (TCRPI) adalah cabang dari The Climate Reality Project (climaterealityproject.org), sebuah organisasi nirlaba yang didirikan dan diketuai oleh peraih nobel dan mantan Wakil Presiden AS Al Gore. TCRP mendukung lebih dari 260 Pemimpin Iklim di Indonesia dan lebih dari 7.000 di 135 negara di seluruh dunia.

    Para Pemimpin Iklim ini adalah sekelompok sukarelawan yang berdedikasi dan telah dilatih secara pribadi oleh mantan Wakil Presiden Al Gore untuk mengedukasi masyarakat tentang realitas perubahan iklim dan mempromosikan solusi lokal dan global. The Climate Reality Project Indonesia memainkan peran penting sebagai koordinator pemuda dalam Forum dan Indonesia Climate Change Education Forum and Expo (ICCEFE) tahunan dan partisipasi Delegasi Pemuda Indonesia untuk Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    The Climate Reality Project Indonesia juga secara teratur menyelenggarakan Youth for Climate Camp di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Alumni Youth for Climate Camp telah mencapai lebih dari 1500 dari berbagai kota di Indonesia. Mereka terhubung melalui asosiasi alumni yang disebut Youth for Climate Change (YFCC) dan memiliki banyak kegiatan yang berkaitan dengan tindakan iklim. Asosiasi ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara alumni untuk memungkinkan mereka bertukar informasi, ide-ide proyek yang dapat dilakukan secara lokal, dan meningkatkan aksi iklim.(Indah)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here