MENDAMBAKAN WAJAH TROTOAR YANG RAMAH DAN HUMANIS

    0
    288

    Jika anda melintas di sisi kanan kiri sebagian Jalan Adi sucipto dan di sebagian ruas Jalan Ahmad Yani Kecamatan Banyuwangi, anda akan melihat pemandangan berbeda dari biasanya. Karena ada perubahan fisik jalur pedestrian atau trotoar. Jalur pedestrian yang semula permukaannya berwarna merah, sekarang berubah baik bahan, fisik maupun corak warnanya. Dari yang semula ukuran badan trotoar sempit sekarang menjadi agak lebar dengan ketinggian badan trotoar lebih rendah dibanding sebelumnya. Jika dilihat struktur pengerjaan trotoarnya, pemerintah kabupaten Banyuwangi berupaya untuk menjadikan jalur pedestrian yang ramah dan nyaman bagi pejalan kaki. Fasilitas pedestrian yang ramah dan humanis merupakan hak bagi pejalan kaki. Masyarakat pengguna trotoar diharapkan dapat melakukan aktivitas berjalan dengan nyaman, aman dan terbebas dari gangguan pedagang kaki lima, parkir liar yang sering memanfaatkannya. Fungsi trotoar yang seharusnya untuk kepentingan pejalan kaki sering terenggut oleh kehadiran pedagang kaki lima yang berjualan di atas badan trotoar serta pengguna kendaraan motor yang parkir sembarangan di atas trotoar membuat jalur pedestrian berubah fungsi.

    Untuk itu perlu kiranya kesadaran dan kemauan dari masyarakat untuk memahami dan menggunakan trotoar sesuai dengan pemanfaatannya yakni sebagai jalur bagi pejalan kaki. Selama ini kita sering melihat kondisi trotoar yang rusak, kotor, berlubang sehingga masyarakat menjadi enggan untuk memanfaatkan trotoar sebagai akses berjalan, mereka sering menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari. Di sebagian wilayah Banyuwangi masih dijumpai penggunaan trotoar yang tidak semestinya, sehingga mengganggu kenyamaan para pejalan kaki, apalagi Banyuwangi dengan perkembangan pariwisatanya, saat ini menjadi salah satu wilayah destinasi bagi wisatawan baik domistik maupun mancanegara. Tentu akan menjadi sorotan. Para wisatawan tentu akan melihat berbagai macam suguhan unggulan potensi-potensi yang dimiliki Banyuwangi termasuk diantaranya adalah terkait dengan kebersihan, kerapian, ketertiban dan keindahan kota. Ada image buruk bagi perkembangan suatu wilayah jika penataan dan pembangunan trotoar tidak sesuai peruntukannya. Trotoar adalah termasuk wajah dari suatu wilayah yang menjadi cerminan keindahan kota yang bersangkutan. Jika jalur trotoar yang dimiliki baik, tidak rusak dan berfungsi semestinya, itu akan menjadikan bagian wajah kota yang indah. Jalur pedestrian memliki fungsi yang strategis bagi perkembangan suatu wilayah, sebab dengan jalur pedestrian yang terkoneksi secara merata dan terintegral akan menjadikan dan menumbuhkan minat masyarakat untuk senantiasa menggunakan sarana trotoar sebagai alternative melakukan kegiatan out door berupa berjalan kaki. Konsep ramah lingkungan dan humanis dalam pembuatan jalur pedestrian akan memberikan efek dan ruang manfaat yang positif bagi masyarakat untuk senantiasa menjadikan trotoar sebagai akses utama bagi pejalan kaki utk beraktivitas, khususnya untuk penyandang difabel .

    Dalam Undang-undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan memang secara spesifik tidak dijelaskan tentang fasilitas pejalan kaki namun Di Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan Pasal 34 ayat (3) Ruang manfaat jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diperuntukkan bagi median, perkerasan jalan, jalur pemisah, bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya. Dan ayat (4) Trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki. Dalam pasal 34 ayat ke 3 dan 4 jelas disingung tentang ruang manfaat jalan(rumaja) yaitu trotoar. Sekarang tinggal bagaimana keberadaan jalur pedestrian tersebut dapat dipelihara, dijaga dan dirawat sehingga fungsi trotoar sebagai bagian dari ruang untuk pejalan kaki dapat dimaksimalkan peruntukkannya sehingga tidak ada lagi alih fungsi trotoar yang terjadi saat ini. Trotoar yang bagus saat tersebut, yang pembuatannya mengeluarkan anggaran daerah yang lumayan banyak ini tidak hanya dijadikan pemanis kota semata tetapi dapat memberikan kesadaran dan meningkatkan gairah kepada masyarakat untuk gemar melakukan kegiatan luar rumah yakni berjalan kaki. Untuk mewujudkannya tidak mudah memang! Karena masyarakat beranggapan lebih baik menggunakan sepeda atau kendaraan bermotor daripada berjalan kaki di jalur trotoar karena tidak nyaman dan bahkan membahayakan bagi pejalan kaki. Pejalan kaki mempunyai hak-hak dan kewajiban yang seharusnya dihormati dan diutamakan tetapi masih sering diabaikan hak-haknya dan terkadang membahayakan bagi pejalan kaki itu sendiri.

    Dalam pembangunan trotoar harus juga terintegrasi dengan fasilitas pendukung lainnya seperti tercermin dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang lalu-lintas dan jalan berbunyi Fasilitas pendukung penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan meliputi:
    a. trotoar;
    b. lajur sepeda;
    c. tempat penyeberangan Pejalan Kaki;
    d. Halte; dan/atau
    e. fasilitas khusus bagi penyandang cacat dan manusia usia lanjut.
    Jika melihat acuan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah di atas, Kabupaten Banyuwangi sebenarnya sudah memiliki fasilitas yang di syaratkan namun fasilitas-fasilitas tersebut hanya ditempat-tempat tertentu saja tetapi belum terintegrasi dengan tempat lainnya secara massif. Contoh masih ada pembangunan trotoar yang tidak ramah kaum difabel, Akses trotoar satu ke trotoar lainnya tidak nyaman. Dalam setiap pembangunan jalur pedestrian tentu harus memperhatikan banyak aspek yang dibutuhkan seperti pemenuhan akan hak-hak dan dampak yang timbul bagi pejalan kaki. Untuk dapat mewujudkan pembangunan jalur pedestrian yang ideal, tentu tidak bisa bekerja sendiri-sendiri tetapi perlu kerjasama yang intens antara pemerintah daerah serta masyarakat agar setiap perencanaan pembangunan hasilnya dapat berdaya guna, berhasil guna dan tahan lama Dambaan masyarakat untuk memiliki trotoar yang ideal adalah sebuah keharusan. Untuk itu pembangunan trotoar yang ada saat ini, wajib dan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat bukan sekedar dijadikan pajangan dan pemanis semata.
    (Nur Prasetyo  Dosen Universitas Bakti Indonesia РBanyuwangi)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here