EDUKASI PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 MELALUI PENDEKATAN SOSIOKULTURAL

0
185

Virus corona atau covid-19 telah melumpuhkan dan memporak-porandakan sebagian besar sendi kehidupan, salah satunya adalah sendi ekonomi. Begitu dahsyatnya serangan covid-19 ini, sehingga hampir seluruh negara di belahan bumi ini mengalami stroke keuangan seingga kebijakan-kebijakan yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya menjadi terhenti dan hampir seluruh anggaran dialokasikan terhadap penanganan virus corona. Semua program harus dipending dan mengalami rescheduling dengan waktu yang tidak dapat dipastikan, kapan akan berakhir.  Melihat korban meninggal yang mencapai ratusan ribu orang di dunia akibat covid-19 ini, di satu sisi memunculkan sikap solidaritas bangsa-bangsa di dunia untuk saling peduli serta bahu-membahu atas nama kemanusiaan..

Sejak virus corona baru ini merebak pertama kalinya di Wuhan China akhir tahun lalu. Banyak negara, ilmuwan dan pakar kedokteran berlomba-lomba untuk menciptakan obat atau serum yang dapat mematikan virus ini. Adapun sejarah virus corona ini sendiri menurut para ilmuwan seperti dikutip dari salah satu berita portal nasional bahwa virus corona ini telah dikategorisasikan pada tahun 1960-an dan penyakit parah pertama yang disebabkan oleh virus corona tersebut adalah Severe Acute Respiratory Syendrome (SARS) yang mulai menjadi epedemi di China pada tahun 2003. Kemudian China memberitahukan kepada WHO mengenai wabah virus corona baru yang menyebabkan penyakit parah yang kemudian di namakan SARS-CoV-2. Tentu ini merupakan musibah, bencana atau force majuere internasional yang tidak dapat ditangani secara parsial akan tetapi harus secara paralel dan komprehensip dalam menangani wabah yang semakin meluas dan massif ini. Bahkan organisasi kesehatan melalui badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization) telah mengeluarkan protocol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus covid-19 ini. Dan protocol kesehatan WHO ini menjadi acuan masing-masing negara untuk membuat mekanisme atau aturan terkait penanganan wabah corona dan disesuaikan dengan kondisi atau wilayahnya. 

Indonesia sendiri sebagai negara terdampak dari virus covid-19 atau SARS-CoV-2 ini telah berusaha keras untuk memutus rantai penyebarannya. Mulai dengan mengikuti anjuran protocol kesehatan WHO dengan melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), berolahraga, selalu cuci tangan dan tidur cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh, tidak melakukan social dan physical distancing dan masih banyak lagi. Minimal dan diharapkan dengan anjuran tersebut, penyebaran virus corona menjadi terhambat. Seperti diketahui bahwa dampak virus corona ini salah satunya adalah menghantam sektor ekonomi. Khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan bekerja di sector informal, merasakan betapa terpukulnya kondisi perekonomian mereka. Bagaimana tidak, semua geliat kegiatan ekonomi dibatasi bahkan harus tutup sehingga mau tidak mau pendapatan masyarakat menurun drastis bahkan mereka harus rela kehilangan pekerjaannya. Memang sektor ekonomi tidak satu-satunya yang terdampak akibat virus covid-19 ini. Akan tetapi secara tidak langsung sisi psikologis dan social masyarakat menjadi permasalahan tersendiri akibat wabah virus tersebut. Contoh, secara psikologis yang pertama muncul adalah stigma negative terhadap orang lain karena dikhawatirkan orang tersebut membawa virus. Yang kedua mengalami depresi bagi yang sedang mengalami isolasi ataupun masih dalam tahap PDP (Pasien Dalam Pengawasan) atau ODP (Orang Dalam Pemantauan) bahkan OTG (Orang Tanpa Gejala). 

Sedangkan dampak secara social, yang pertama adalah adanya sikap diskriminasi dan kecurigaan berlebihan terhadap orang-orang yang berasal dari daerah zona merah terpapar corona. Yang kedua adalah panic buying, dengan membeli dan memborong barang-barang seperti masker, handsanitizer sehingga menjadi barang yang langka dan mahal. Adapun contoh-contoh tersebut menjadi fenomena nyata akibat wabah virus corona ini. Untuk menangani dan memutus rantai penyebaran pandemi virus corona ini memang dibutuhkan kerjasama dan keikhlasan semua pihak serta semua stakeholder yang terlibat, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah dan secara bersama-sama rutin melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap proses penyebaran virus corona ini ke semua pihak tanpa terkecuali. Karena tanpa keterlibatan semua unsur seperti pemerintah, swasta, institusi pendidikan, pengusaha, NGO, pegiat social, tokoh masyarakat dan tokoh agama serta pihak-pihak lain, mustahil penanganan pandemi virus corona ini akan cepat terselesaikan.  

Memang membutuhkan sistem dan strategi khusus untuk mengendalikan penyebaran pandemi virus Covid-19  tersebut. Artinya seperti dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mengatasi wabah virus corona ini perlu kerja paralel dengan semua lintas sektor. Dan akhirnya respon cepat tersebut ditunjukkan pemerintah dengan mengeluarkan KEPPRES NOMOR 7 TAHUN 2020  TENTANG GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) Adapun tujuan dibentuknya tim gugus tugas tersebut adalah seperti tertuang dalam pasal 3 ayat c, d dan e yang berbunyi “Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19  bertujuan : meningkatkan antisipasi perkembangan eskalasi penyebaran COVID-19; meningkatkan sinergi pengambilan kebijakan operasional; dan meningkatkan kesiapan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespon terhadap COVID-19”.  Dengan terbentuknya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tersebut merupakan langkah tepat karena dapat memaksimalkan jalur koordinasi dan komunikasi dalam mengantisipasi penyebaran wabah virus ini. Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini diharapkan tidak hanya bertugas dan bertindak secara kuratif semata tetapi melakukan aktivitas preventif dengan terjun langsung ke masyarakat-masyarakat bawah dan memberikan informasi, penyuluhan dan langkah-langkah antisipasi pencegahan virus corana ini. 

Tentu, pendekatan dan antisipasi yang dilakukan oleh tim tersebut seharusnya tidak hanya dengan pendekatan normatif medis semata tetapi seyogyanya dengan melakukan pendekatan secara sosiokultural karena bangsa ini mempunyai keanekaragaman karakter sosial dan budaya yang kuat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sosiokultural memiliki makna “berkenaan dengan segi sosial dan budaya masyarakat”. Dengan bermacam-macamnya suku, adat, bahasa dan budaya serta tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, ditambah dengan topografi wilayah Indonesia yang begitu luas dengan kondisi medan berupa daratan dan perairan yang kadang sulit untuk djangkau baik dengan transportasi maupun dengan sarana media tehnologi informasi. Saya berkeyakinan pencegahan pandemi covid-19 ini tidak maksimal. Untuk itu, tindakan pencegahan dan penanganan wabah virus ini sudah seharusnya melibatkan dan menggandeng tokoh masyarakat, adat, suku dan agama secara intens. Keterlibatan tokoh masyarakat, adat, suku dan agama setempat akan lebih memudahkan karena memiliki hubungan batin dan sosial yang kuat sehingga transfer informasi lebih cepat diterima. Berbeda halnya dengan masyarakat di perkotaan yang secara pendidikan dan pengetahuan tehnologi informasinya lebih baik, maka akan lebih cepat merespon dan menerapkan aturan-aturan yang dibuat seperti Instruksi Presiden ataupun Surat Edaran yang dibuat oleh pemerintah setempat. Sehingga pendekatan secara sosiokultural melalui tokoh masyarakat, adat, suku dan agama adalah hal urgent karena akan memberikan dampak significant dalam konteks pencegahan penyebaran virus covid-19

Dampak yang timbul dari pendekatatan secara sosiokultural, yang pertama adalah : komunikasi, informasi dan sosialisasi akan lebih mudah diterima serta dijalankan karena ada hubungan emosional antara patron dan kliennya. Yang ke dua, pendekatan sosiokultural akan memudahkan dalam hal pengawasan dan pemantauan setiap aktivitas individu, karena ciri khas masyarakatnya yang senantiasa menjunjung tinggi norma, adat istiadat dan sangsi-sangsi moral yang berlaku. Yang ke tiga, pendekatan sosiokultural akan menggugah perasaan dan sikap untuk empati, peduli terhadap segala musibah yang terjadi karena  adanya ikatan sosial dan persamaan budaya yang dianut. Yang ke empat pelibatan tokoh masyarakat, adat, suku dan agama secara massif dalam program pencegahan virus corona ini akan lebih efektif dan efisien. Selain karena hubungan spiritual, sikap hormat dan taat serta loyalitas yang ditunjukkan kepada pemimpinnya, menjadi modal dasar dan penentu keberhasilan dalam pencegahan wabah virus tersebut. Harapannya tentu, dengan melakukan pendekatan secara sosiokultural tersebut, minimal pemahaman dan pengetahuan terhadap proses penyebaran wabah virus corona yang sudah menjadi pandemi ini mudah dijalankan dan dapat diantisipasi sedini mungkin. Sedangkan program-program pencegahan yang telah disusun dapat ditransformasikan secara cepat dan tepat dengan mengedepankan komunikasi serta karakteristik dari adat, budaya daerah setempat melalui tokoh-tokoh panutannya. (Nur Prasetyo Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here