Slametan di Tanah Leluhur Pengusir Pagebluk.

    0
    141

    Masyarakat Osing Banyuwangi terutama di kalangan petani yang tinggal di lereng gunung Ijen merupakan masyarakat yang lekat dengan tradisi “Slametan atau Sedekah” dan upacara-upacara tradisional yang masih lestari. Setiap tahapan kehidupan seseorang, yaitu sejak dari kandungan hingga meninggal selalu diperingati dengan upacara tradisi terlebih dahulu, demikian juga dalam berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tidak luput juga upacara tradisi yang dilakukan ketika masyarakat mengalami suatu peristiwa yang mengerikan seperti “pagebluk covid-19” saat ini.

    Masyarakat petani Osing yang tinggal di pedukuhan dikelilingi persawahan di “Kampung Dukuh” desa Glagah ,Banyuwangi menggelar Sedekah Sawal atau Slametan Gelar Pitu yang dilaksanakan pada hari ke tujuh Syawal Idul Fitri (Sabtu,30/5/2020).

    Ritual sakral ini dilakukan sangat hati-hati dengan menyiapkan sesaji dan perilaku tertentu, tidak menimbulkan kerumunan orang, utamanya di masa pandemi ini semua harus mengikuti protokoler kesehatan yang diawasi langsung oleh kepala desa maupun dari polsek setempat.
    Inti yang terdapat dalam Slametan ini adalah memohon keselamatan kepada Tuhan agar senantiasa dilindungi dari segala malapetaka yang bersifat alamiah maupun berupa gangguan gaib.Tradisi ini juga dilaksanakan sebagai manifestasi rasa syukur terhadap Tuhan yang telah memberikan anugerah dan keselamatan. Masyarakat Osing ini masih mempercayai bahwa mereka tinggal di tanah leluhur dan menyadari bahwa acara selametan digelar sebagai media komunikasi dengan sesuatu diluar dirinya juga merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk lebih memahami dan menyelaraskan hidup dengan apa yang ada di sekitarnya.
    Masyarakat agraris tradisional masih percaya dan memiliki mitologi bahwa kekuatan alam tersebut bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan ungkapan dari alam gaib, yaitu misteri yang mengelilinginya (harmonisasi). Tuhan dan alam adalah ungkapan kekuasaan yang akhirnya menentukan kehidupannya. Kehidupan manusia akan berjalan baik apabila keharmonisan dalam masyarakat, dengan alam dan dengan adikrodati tetap terjaga.

    “Alhamdulillah, tradisi turun-temurun yang melahirkan masyarakat guyup rukun damai ini masih lestari dan semoga kelak diwarisi oleh generasi muda penerusnya, “ucap kepala desa Glagah usai acara berlangsung.

    Kabulo hajate dulur-dulur Dukuh…semoga pagebluk corona segera sirna !!
    (By Aekanu – Kiling Osing Banyuwangi)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here