Tokoh Pendidikan & Kebudayaan Mendadak Meninggal Usai Jogging

0
1002

Kabar duka mendadak mengagetkan jajaran dunia pendidikan dan kebudayaan kabupaten Banyuwangi. Termasuk ragam kalangan media, seniman, atlit, terlebih istri dan 3 buah hatinya.Semua tak nyana.Ya, Drs. Nur Hamim,M.Pd yang baru purnatugas sebagai ASN, pagi tadi menghembuskan nafas terakhir usai jogging pagi di seputaran rumahnya di Lingkungan Kramat Gantung RT 01 RW 01 Desa Kaligung Blimbingsari.

“Jalan kaki dan gerak badan sambil menyapa tetangga, lalu mengaku pusing dan lemas di teras rumahnya. Lalu kami bawa ke RS NU Mangir, dan takdir umur tak bisa dimajukan dan dimundurkan, ” ungkap Ustadz Syairin yang pimpin talqlin di pusara almarhum siang tadi (02/6).

Melihat yang melayat ada Wabup Yusuf Widyatmoko,Staf ahli Dwi Yanto, serta pejabat dan staf serta para tokoh masyarakat dan pensiunan,menunjukkan kiprah almarhum selama hidup begitu berart.

“Almarhum itu koordinatornya koordinator di berbagai kegiatan, Ia orang baik, ” ungkap Hamawi, pensiunan Dispendik yang kini punya kolam pancing dan hobbi gowes sepeda kuno.

“Warga Kaligung juga kehilangan almarhum motivator nong ngarep kalau kegiatan pemuda untuk olahraga, kesenian daerah dan keagamaan, “tambah Samsudi, takmir masjid jami’ yang juga pemilik konveksi Gelang Alit dibenarkan Suyuti–penyandang tunanetra yang bagian sound masjid.

Karir Nur Hamim diawali sebagai guru olahraga SDN 1 Rogojampi, lalu jadi ka UPTD pendidikan kota, Srono, Sempu, Singojuruh hingga purnatugas di Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Banyuwangi.

“Saya terkesan bareng saat garap festival ndog-ndogan di Masjid Agung Batiturrahman, ” ungkap Marhen, Maneger B-Fest tahun lalu yang kini di Bappeda, usai turut mensholati dan makamkan almarhum.

Sementara itu, sembari sesenggukan dan berkaca-kaca, Yeti Chotimah (44), “Pak guru yang selalu yang saya ingat, beliau yang besarkan hati saat di kelas maupun motivasi percaya diri lomba porseni bidang baca puisi saat wakili Rogojampi. Saat Saya mengajar seni budaya lokal Blambangan dan ektra teater di SMAN 1 Giri, dua anaknya yang kini jadi wasit nasional, cerita ke bapaknya kalau guru yang inspiratif yang memantapkan karirnya adalah saya. Dan tiap ketemu, kami saling memuji dan mendoakan ke sejawat. ” sendu haru Yeti Chotimah, M.Art yang kini mengabdi di SMPN 3 Rogojampi sembari kirim doa ummul kitab Al Fatehah.( Bung Aguk & Adi Sugianto).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here