MOH. JUMALIS ARTIS JEBOLAN RIPE CURL EKSIS SANG PELUKIS ALIRAN NATURALIS DIMASA KRISIS

    0
    181

    DENPASAR_ “Kebudayaan adalah bingkai besar kearifan masyarakat, dalam mengembangkan jati diri sebagai entitas seni, adat – istiadat, tata norma kemasyarakatan, keagamaan, perilaku menyeluruh berpijak pada kearifan dan keagungan yang bersumber pada Tuhan, alam dan manusia, ” Kata Moh .Jumalis yang akrab disapa Alis pria kelahiran 1974 asal Jalen Genteng Banyuwangi.

    Menetap di Bali bersama istri dan 2 putra putrinya tepatnya di jl. Pulau Moyo No. 8 gang Horti 3 Denpasar. Rumah merangkap studio 3 seni yang bergerak dibidang event organizer, fotografi, desain interior juga gallery lukis, tampaknya sudah mantap menjadi pilihan utama Alis. Disaat krisis covid 19 yang sangat berpengaruh kuat dibidang ekonomi,pariwisata Bali .

    Usaha Alis mengeksiskan diri sebagai seniman tidak main – main. Jebolan perusahaan besar Ripe Curl Marketing Division Promo & Event. Seorang Alis ini sudah menyiapkan stock kanvas sekamar penuh dilantai dua lengkap gulungan kain, cat, dan peralatan lukis berbagai ukuran .

    Saat ditanya tentang perkembangan seni lukis masa covid 19 ini apakah tidak berfikir ulang dengan idealismenya , Alis menjawab, “Saya ini lahir besar di Banyuwangi yang punya kemiripan karakter dengan budaya Bali, jadi meskipun saat ini banyak pelukis yang pulang ketempat asalnya, saya justru memilih setia dan menekuni dunia arts ini, yang bagi saya adalah bagian jati diri hidup saya,” Ungkapnya. Hal tersebut juga di support oleh istrinya yang asli Dusun Welud Singojuruh Banyuwangi.

    Di Gallery Alis, Juga bergabung beberapa nama pelukis Banyuwangi yang ikut aktifitas seperti Gimin,Bandi, Fajar,Tatang,Toha, sederet lukisan karya Suroso Jember,Widodo N, Sugik Laros,Sigit Basuki, Achmad Romli, Al fathoni, Deni Kurniawan, dan Windu. Pamor karya sang Maestro Mozes Mizdi Banyuwangi tema perahu, pelukis istana Brunei Abbas Motota juga menghiasi dinding Gallery studio 3 Seni.

    Harapan dan mimpi besar Moh.Jumalis tentang Banyuwangi dan Bali ketika ditanya reporter Lensa, “Saya tidak akan pernah melupakan tanah kelahiran, wujud cinta dan bakti saya ekspresikan melalui karya seni yang bisa berbicara tanpa kata -kata, dunia akan melihat keelokan, kekayaan kearifan dan segala aspek kehidupan masyarakat sebagai budaya luhur yang harus dijaga ,dirawat dan dilestarikan sampai ke anak cucu kita.” Kata Alis.
    ( Ambarwati Soenarko)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here