In Memoriam Muhammad Agus Sudiawan, Seniman Lukis Asal Jember Pejuang Keluarga yang Gigih Dimata Istri dan Anaknya

0
147

Disaat krisis melanda, ujian bagi sebuah keluarga adalah bagaimana bisa bertahan hidup, dengan mengandalkan kemampuan diri serta kekuatan doa. Hal ini dirasakan cukup berat oleh seorang kepala keluarga/bapak, banyak kesulitan kehidupan yang bisa dijalani, jika kebetulan pasangan hidupnya sebagai pendamping bisa seia sekata.

Salah satu keluarga yang mengalami pasang surut kehidupan ini, adalah pasangan suami istri Wawan dan Nikmah yang sudah dikarunia seorang putra bernama Rizki.Sebagai seorang kepala keluarga Muhammad Agus Sudiawan/Wawan pria asal Jember Jawa Timur, ternyata membuktikan ikrar cintanya terhadap Nikmah gadis muslim asli Kampung Kecicang Karang Asem Bali.
Sampai memiliki seorang putra, yang diberi nama Rizki saat ini berusia 11 tahun. Wawan menghidupi keluarganya dengan keahliannya selama ini berprofesi sebagai pelukis.

Tinggal di kompleks kost para seniman lukis, di daerah Batuan Sukawati tepatnya didepan SMAN 2 Sukawati mereka bertiga menyewa sebuah ruangan kost satu kamar dengan cara bayar bulanan sama seperti para perantau pada umumnya yang tinggal disana.Untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya, sebagai istri Nikmah pun tidak tinggal diam, tanpa malu 2 perempuan ini juga menerima upah buruh harian membantu bungkus krupuk milik tetangga.

“Bisa buat tambah uang jajan Rizki, “katanya.

Kesabaran dan kebaikan Wawan rupanya bukan kepada istri dan anaknya saja, keluarga istrinya dari Karangasem pun merasakan hal yang sama, teman pelukis, tetangga juga mengakui dan melihat sikap sehari -harinya yang apa adanya itu.
Kesehariannya melukis, disebuah garasi yang diberi pinjaman oleh tuan rumah sebagai bengkelnya untuk menerima dan membuat order lukisan, dari para kolektor atau pemilik galery.

Lukisanpoto shop, karakter, dan naturalis diterimanya asal cocok dan sesuai harga, hal itu yang ditekuninya sampai masa corona datang terus bergelut dengan dunia lukis.

Kesempatan bersama keluarga adalah hal penting, istri dan anak tidak pernah lepas dari pengawasannya sampai tiba masa dimana menurut istrinya sang suami merasakan kesakitan dibagian tenggorokannya akibat radang. Sebulan yang lalu tepatnya awal Juni dirasakan oleh Wawan ada sesak dibagian dadanya. Karena situasi yang tidak memungkinkan, maka dengan dibantu keluarga di Karangasem tindakan periksa ke RS dilakukannya, diagnosa dokter radang tenggorokan. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih jauh ternyata ada infeksi diparu -parunya yang sudah parah /ada lubang. Dan itu disebabkan akibat terlalu sering menghirup aroma cat yang selalu tiap hari dikerjakannya.

Kerja keras dan usaha dari Almarhum Wawan harus berhenti sampai dihari akhir usianya, tepatnya dihari Selasa tanggal 29 Juni 2020 jam 17.30 WITA di RSU Karang Asem tutup usia. Dimakamkan dipemakaman umum muslim kampung Kecicang pada hari Rabu diiringi doa istri anak dan kerabatnya.

Almarhum meninggalkan istri dengan seorang anak yangrencananya pulang dan tinggal dikampung kecicang .Semoga khusnul khotimah buat pak Wawan, semoga keluarga ikhlas tabah dan tetap semangat.Dari kecicang Karang Asem Ambarwati Soenarko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here