Kreativitas Saat Pandemi Harus Tetap Menjadi Inovasi Para Seniman

    0
    107

    Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas Bertemu Para Seniman dan Budayawan di Pendopo Sabha Swagata, Rabu (16/09/2020).

    Ia menegaskan, wabah virus corona harus diambil hikmahnya. Menurutnya, justru saat pandemi, seniman lebih banyak ada waktu, untuk berinovasi melahirkan keratifitas baru. Covid-19 menimbulkan dampak bagi berbagai pihak, termasuk para seniman.

    Meski mengalami kerugian ekonomi, bahwa pandemi juga menimbulkan dampak positif. Dengan adanya pandemi, seniman memiliki banyak waktu untuk lebih menggali kemampuan. Dengan banyaknya waktu luang, semakin banyak orang yang mengeksplorasi diri dan berkarya sehingga selama pandemi semakin banyak inovasi yang bisa diwujudkan menjadi karya-karya baru.

    Anas juga mengatakan dunia kreatif sangat terdampak pada kondisi sekarang. Kalangan seniman, yang di dalamnya termasuk para pekerja budaya dan mereka yang berkutat di bidangnya masing-masing sangat merasakan kondisi saat ini secara ekonomi. Bagaimana konsep pertunjukan seni yang akan dilakukan pada masa pandemi.

    “Mengingat semenjak adanya masa pandemi Covid-19 ini ada beberapa protokol kesehatan yang harus kita taati, untuk itu bagaimana dengan kesenian yang mana dalam pagelarannya melibatkan massa yang banyak dan tentunya dengan berbagai riasan yang harus digunakan, ini perlu kita diskusikan bersama,” katanya.

    Maka, langkah-langkah pemulihan sektor wisata harus segera dilakukan. Salah satunya kami prioritaskan konsep 3A atau atraksi, amenitas dan aksesbilitas adalah syarat mutlak buat mengembangkan destinasi,” ujarnya

    Menurutnya, tiap destinasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan.

    “Apakah destinasi ini membutuhkan dukungan atraksi, amenitas, atau akses, semua kami kembangkan sesuai dengan kebutuhan sehingga tepat sasaran dan pengembangannya bisa maksimal,” paparnya.

    *Atraksi* menjawab pertanyaan “apa” dalam pariwisata. “Untuk apa kesana? Apa yang akan dilihat? Apa yang akan dinikmati? Pengalaman apa yang akan dirasakan?”

    Atraksi dalam pariwisata terdiri dari 3 hal: wisata alam, Culture attraction /wisata budaya dan Man Made Attraction /wisata buatan. Belakangan, festival-festival pariwisata ikut dikategorikan sebagai Man Made Attraction, seperti Banyuwangi berhasil mengangkat pariwisatanya lewat Banyuwangi Festival. Jika ingin sukses, Banyuwangi perlu memadukan dan mengembangkan ketiga jenis atraksi wisata itu.

    *Amenitas* berhubungan dengan fasilitas pendukung pariwisata. Hotel, resort, vila sampai home stay adalah bagian dari amenitas. Tersedianya hotel-hotel berbintang sampai ke home stay . Suatu daerah layak dikunjungi mulai dari wisatawan kelas bawah sampai wisatawan super kaya.

    **Aksesibilitas*
    Singkatnya, aksesibilitas dalam pariwisata bicara tentang Akses, keterjangkauan. Untuk ke satu destinasi wisata, aksesnya bagaimana, dapat dikunjungi tidak?

    Akses berhubungan dengan sarana dan prasarana transportasi.  Anas mencontohkan seperti aksesibilitas menuju Plengkung.

    “Kami akan coba komunikasi dengan pihak terkait seperti sponsor untuk menggelar kompetisi surfing tingkat dunia tahun 2021 nanti, untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya.

    Menurut Anas, sektor pariwisata adalah pengungkit sektor lainnya di Banyuwangi, dan sektor pariwisata mendorong peningkatan sektor olahan pangan atau kuliner, berbagai produk kreasi UMKM, jasa transportasi dan sebagainya.

    Kita dalam proses penting melakukan pengembangan kebudayaan . Bagi Banyuwangi kebudayaan dan tradisi bukan masa lalu, tapi masa depan.

    Anas mengatakan melestarikan budaya dan tradisi merupakan upaya penting dalam menyongsong kemajuan daerah.

    ;Saya ingin Budayawan Banyuwangi dijadikan percontohan oleh Pemerintah Pusat karena dianggap memiliki strategi yang tepat dalam melestarikan kebudayaan dan tradisi asli masyarakat. Bagaimana membangun Banyuwangi yang berbasiskan kebudayaan lokal,” katanya.

    Sementara itu, salah satu sastrawan Fatah Yasin Noor mengaku jika saat ini rekan-rekan seniman di Banyuwangi masih terus beraktivitas di sanggar -sanggar seni.
    Banyuwangi dikenal ke dunia internasional dalam kurun sepuluh tahun belakangan ini adalah capaian tidak main-main. Kekayaan seni dan tradisi budayanya ternyata berhasil memikat orang diseluruh buana. Cita-cita membangun pariwisata, yang digarap profesional setidaknya telah membuahkan hasil. Tiba-tiba berdiri hotel-hotel bertaraf internasional di kabupaten. Juga agenda tahunan sejumlah event seni. Tempat-tempat wisata dan kuliner dibangun, dibocorkan lewat internet. Booming wisata ini melonjak fantastis. Tiba-tiba Banyuwangi terkenal. Ini menjadi fonomena yang bikin penasaran pemerintah pusat. Kok bisa? Setidaknya itulah benang merah yang disampaikan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Rabu, (16/9), di Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Acara audiensi bupati dengan seniman dan budayawan ini difasilitasi oleh Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Tak kurang lima puluh seniman dari pelbagai disiplin hadir. Plt. Ketua DKB Hasan Basri juga diberi kesempatan menyampaikan sambutanya pada acara yang dipandu oleh MY. Bramuda, Kepala Disbudpar Banyuwangi. Salah satu seniman lukis , N. Kojin mengaku jika dirinya tetap optimis meski di tengah pandemi. Dia berharap, sektor pariwisata segera pulih sehingga aktivitas seniman bisa kembali normal.

    “Kemajuan pariwisata Banyuwangi sangat berkolerasi positif bagi kami para seniman. Saat ini di masa sulit ini kami seniman saling bahu membahu untuk bertahan. Semoga pariwisata Banyuwangi akan kembali bangkit seperti sedia kala,” ujarnya.(Ilham Triadi)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here