KIRIM DOA IBU TUGINEM, ALA SENIMAN

    0
    82

    Mengenang jasa bagi orang yang berharga dalam hidup kita, adalah kewajiban yang sejak kecil sudah ditanamkan turun temurun para generasi ke generasi.

    Orang jawa terutama menyebutnya Kirim Duwo/mengirimkan doa bagi arwah para leluhur. Lain ladang lain belalang,lain lubuk lain ikannya. Pepatah /peribahasa menyingkat sedemikian rupa, untuk memudahkan pedagangnya sebagai berikut, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

    Maksud pengertian, dimana kita berada menyesuaikan dengan keadaan.Waktu yang begitu panjang dan berliku telah dilalui dengan berproses oleh seorang seniman lukis.Terlahir dari ujung timur pulau Jawa, Jajag-Banyuwangi Pak Herman, laki-laki usia kurang lebih 60 -an melewati masa mudanya sejak lulus SMP di Jajag,Hijrah ke Jakarta, Malang, Surabaya, Yogya, Sumatra, Kalimantan, Mataram, Bali.

    Saat berproses, sebelum mantap menjadi seniman lukis, beliau pernah mengabdi jadi abdi negara capeg, guru yang saat tersebut masih status honorer dengan gaji boker.

    Melihat teman pelukis yang sekali order saat itu dapat uang banyak, tanpa fikir panjang dilepasnya status honda di Jawa Barat.

    Kebulatan tekadnya didukung kondisi saat itu begitu banyak tanggung jawabnya sebagai keluarga. Menghidupi istri dan anak, tempat tinggal serta turunan lain semakin kuat tekadnya.

    Hijrah ke Jawa Tengah tepatnya di Yogyakarta, hidup sebagai seniman dengan ketidak beraturannya membuat ritme pola hidup gaya terbalik, siang jadi malam, malampun jadi siang. Demi mengejar target dan pemenuhan kebutuhan hidup.

    Bertemu dengan seseorang yang tidak ada pertalian darah,ditempat jauh betul-betul suatu berkah. Ibu Tuginem sang dewi penjelasan keluarganya,rela mengasuh dan merawat putra-putrinya, bagai anak sendiri dengan penuh kasih sayang.

    Sampai sang seniman ini,melanglang buana nusantara, Ibu Tuginem selalu menjaga silaturahminya.

    Catatan pengalaman hidup keluarga bapak Herman, seniman lukis yang sekarang tinggal diGallery Oka, Banjar Dentiyist Batuan Sukawati, diceritakannya sebagai alasan mengundang beberapa teman pelukisnya hadir disana (Budi- Ayam,Rudi -Saleho, R.R Arthadadinata, Kenthing,pak Joko, Bang Lampung, Wawan Brush, Sholeh, Nanang) mengirimkan doa ala seniman untuk almarhum Ibu Tuginem tersebut.

    Acara yang berjalan dengan Khidmat,dan sederhana diawali Baca sholawat, tahlil pendek, doa arwah dan ditutup doa selamat, mengundang guru ngaji dari Kampung Santri Bali, Batuan Sukawati Ustazd Widodo, yang memimpin doa bersama tersebut.

    Selesai berdoa, disuguhkan hidangan ala seniman,kopi hitam ,air putih, nasi bungkus campur, plus nasi hangat dan kare ayam jago kampung, sambal bajak yang diracik dan dimasak oleh bunda Ocha.

    Perempuan asal panderejo Banyuwangi,ini memang cekatan urusan masak memasak.Para seniman yang Singgah di Gallery Kampung Painting Batuan Sukawati, dengan ramah ditawari kopi,makanan apapun yang ada disana, juga bisa pesanan untuk macam-macam kegiatan para seniman di batuan.

    Menutup acara, pak Herman mengucapkan terimakasih pada semua teman seniman yang hadir, dengan menyilahkan makan digazebo gallery.

    Dari Gallery lukis Kampung Painting Batuan-Sukawati Gianyar Bali, reporter Lensa Banyuwangi. (Ambarwati Soenarko).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here