MAJALAH KEBOUNDHA, SEJARAH SENI DAN BUDAYA BANYUWANGI, DIHABISI TANPA SISA OLEH WONG BANYUWANGI DI BALI

    0
    153

    Kecintaan pada tanah kelahiran, seni budaya,yang mengalir diseluruh darah dan denyut nadi ,bukan sesuatu yang gampang dihilangkan begitu saja. Dimanapun berada ketika bertemu, mendengar, melihat, satu persamaan juga kebaikan yang ditanamkan secara mendasar pada jiwa dan raga, maka akan menimbulkan daya besar seperti magnet yang bertemu saling menarik di media ujungnya.

    Filosofi diatas berlaku bagi sebuah karya tulis sejarah, seni dan budaya yang diaplikasikan dalam sebuah tulisan berbentuk buku. Yeti Chotimah M. Art ibu berputra 3, yang sekarang menjadi pengajar di SMPN 3 Rogojampi istri dari bung Aguk aktifis sosial dan penggiat seni di Banyuwangi, memberikan tanda mata bagi pecinta sejarah seni budaya Banyuwangi khususnya nusantara umumnya.

    Tidaklah mudah dalam berproses kreatif dan idealis, untuk menemukan bentuk karakter sebuah ide/gagasan yang disampaikan dalam literasi. Meskipun tanpa melihat dan membaca karya dari Yeti Chotimah, dapat disimpulkan, kesederhanaan yang mudah dipahami oleh pembaca semua golongan usia ini yang membuat karya tulisnya laku laris manis bak kacang goreng.

    Cover depan penari Seblang, dan Gandrung sumber penarik/ taksu dari buku ini, catatan pengantar dari Begawan Seni -Budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan cukup ampuh menolak santet jahat,  para pegiat sastra yang mandul kreatifitas.

    Sebuah karya tidak perlu besar dan mahal, cukup dengan membuka wawasan serta kefahaman tentang kearifan lokal maka itu akan kelahiran kesadaran cinta tanah air dan bangsa.

    Berpindah dari buku Yety Chotimah asli kelahiran Pabrikan-Prejengan Rogojampi, serupa tapi tak sama, adalah Majalah Keboundha. Teringat dengan almarhum H. Slamet Utomo, founder PATRAP asli Banyuwangi ini cucu dari Kyai Mas Shaleh tokoh spiritual dan Pejuang rakyat Banyuwangi karena atas ide Beliaulah majalah ini hadir dan diberi nama Majalah Keboundha.  Bersama membumikan PATRAP sampai menyebar seluruh nusantara, bukan perjuangan gampang. Salah satu murid beliau Ustazd Abu Sangkan pendiri Sholat Khusuk, adalah bukti bahwa perjuangan itu seiring dengan doa.

    Majalah Keboundha yang terbit tiap bulan, mengambil sifat dan semangat pantang menyerah, jujur, fleksibel, smart dan kuat. Semoga visi-misi Keboundha semakin jelas dan terarah untuk mengiring, mengawal, mengontrol, mengkritisi kebijakan pemerintah/ steakholder di Banyuwangi, juga media informasi, komunikasi, edukasi yang mandiri dan tangguh tidak tergantung pada Sikon dan dakon untuk menjadi cermin dan buku pinter masyarakat Banyuwangi dimanapun berada.

    Kehadiran dua buku yang bentuknya berbeda baik itu isinya dan ukurannya masing-masing  punya daya tarik sendiri. Hal tersebut dari lapangan dibuktikan sendiri oleh marketing operasional Bali sudah habis dalam waktu 2-3 hari.

     

    Mereka yang mengkoleksi Persians di Bali adalah:
    1.H Eko Mujianto( Ketua IKawangi Badung)
    2.H.Matkha Nurul Hadi( Ketua Korlap Kab. Badung)
    3.H.Nurhayati Libranita S.Pd(Ketua DPP IDB Badung)
    4.ISTIQOMAH(Ket. Bid. Sosial IDB Badung)
    5.Bambang (Ketua Budaya IDB Badung)
    6.Heni Rosita (Sekertaris Umum Pertiwi Indonesia Bali)
    7.H.Eddy Supratman( Ketua Bid.Ekonomi IDB )
    8.Suaid Suaida (owner barber shoup men Bali,Loundry 86 Bali)
    9.Ahmad Ferry( Pelangi Jaya Landschap Bali).
    10.Benny Basugiart( seniman Murral dan owner Warung Sawah tepi Sungai-Bali).

    11.Bapak Ferry Ahmad ( Pelangi Jaya Landschap).

    12.Bpk Junaidi( pengusaha dan Mantanance garden-Kampung Bunga)

     

    Buku Sejarah Seni Dan Budaya Banyuwangi karya Yetty Chotimah M.Art, dan Majalah Keboundha group Tampomas, diawal bulan Robiul Awal sudah menyebar di Pulau Bali, dengan peminat yang cukup antusias masih menunggu kiriman berikutnya karena limited edision, serta yang butuh informasi bisa cp. Wa 085790755649-Market area Bali/Ind. Timur.

    Buku adalah jendela hati, membaca membuka wawasan dan ,menerangi kesempatan. Jika masih ada waktu yang bermanfaat,tanpa mengurangi rasa hormat siapapun boleh meminta sar an dan pendapat, kami siap silaturahmi, bergandengan tangan, membimbing, belajar besar bersama. Dengan Semangat Keboundha dan sikap satria bergabung bersama kita bisa..Bali, (24-11-2020) ( Ambarwati Soenarko).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here