BERITA DUKA DARI PULAU DEWATA, SENIMAN PERUPA MB. SANTOSO/BUDI PITHIK TELAH MENGHADAP SANG PENCIPTA

0
316

Bumi para Dewa atau lebih dikenal dengan sebutan pulau seribu pura, memang memiliki magnit luar biasa, bukan hanya dari sisi budaya, seni dan kultur sosial geografisnya, bahkan seluruh aspek kehidupan baik materi non materi, cukup punya daya pikat luar biasa bagi yang mendalami, mengalami, dan sedang mencarinya.

Sekumpulan komunitas seniman yang berbaur disana mulai dari seniman tari, musisi, vokalis, perupa, teater dan kelompok aliran seni apapun banyak yang lahir dan mendapat power dari kearifan lokal dan keramah tamahan bumi para dewa tersebut.

Hal ini dunia pun sudah mengakuinya, sebut saja banyak terdapat museum warga asing kelas dunia seperti Antonio Blanco, dan beberapa perupa ternama asli nusantara sekelas Affandi, Moses Mizdi, dll.

Tentunya perkembangan dunia seni terutama seni lukis dibali tidak lepas dari akar budaya setempat, dimana sebagai akarnya hiasan dekoratif simbol kerajaan bali dan pura selama berabad-abad, artis dan pengrajin serta senimannya dibawah patronase para pemuka agama dan penguasa menghiasi dekor kerajaan dengan panel kayu berukir, lukisan, hiasan dinding sutra dan patung batu. Saat itulukisan tradisional bali lebih dikenal sebagai kamasan/ gaya wayang dua dimensi visual diambil dari kisah mitologi Hindu, digambar dikain atau kulit dengan pewarnaan alami, ternasuk pada patung, relief, di pura atau dinding kerajaan (seperti di istana semarapura/kerajaan Klungkung Bali depan Kertagoza).

Keadaan berubah sejak kedatangan seniman avant-garde asing th 1920-an dan 30-an, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet dan Adrien Jean Le Mayeur yang mendorong kebebasan individu berekspresi. Para seniman pelopor awal ini memberangkatkan konsep dari keterbatasan dengan menyediakan media lukis dan memperkenalkan gaya barat, terutama tekhnik perspektifnya. Hasilnya terjadi ledakan luar biasa terjadilah lahirnya modernisasi gaya lukis tradisional bali.

Gerakan kedua lahir dari pengaruh eropa awal 60-an, datangnya Arie Smit ke desa Penestenan, Ubud yang mendorong seniman didaerah ini untuk eksplorasi dan eksprimen dengan warna, bentuk abstrak sederhana. Lukisan dan gaya yang kemajuannya ekspresif dan sedikit perhatian terhadap detail/ perspektif.

Generasi ketiga munvulnya Post Modernisasi,genre kesenian yang keluar dari nelenggu dan sekat identitas etnis, agama, vorak seni dan seterusnya. Sebut nama pelukisnya Imam Buchori Puja, Nanang Lugonto, Aboed Rudi, Nanang sitdney, Sang Made Budi, dan yang sedang sata jadikan head take adalah Mohamad Budi Santoso/MB. Santoso asal Malang kelahiran tahun 1975 yang tinggal di Loh Tunduh Mas Ubud Gianyar Bali.

Kesehariannya sederhana, pria dengan semangat bekerja dan berkreatifitas luar biasa ini memang memiliki power imaginasi yang luas. Beberapa karya lukisnya menjadi koleksi para kolektor lukisan, sebut saja judul lukisannya, Venezia, Bunga, Ka’bah, Pertarungan Ayam, Pertarungan Naga dan Rajawali. Semua hasil karya lukisnya menggambarkan semangat proses kehidupan, perjuangan, perlawanan terhadap penindasan semangat dan semangat intinya.

Jika berbicara tentang MB. Santoso almarhum berkarya di Bali setelah berkelana dibeberapa pelosok nusantara, dengan mantap memposisikan dirinya di banjar loh tunduh punya Gallery /studio lukis di pinggir jalan raya dan menempati rumah tinggal di Loh Tunduh yang dahulu dihuni keluarga pelukis bapak Paul.

Memang jodoh, rejeki, maut rahasia Ilahi.Tidak ada yang bisa memprediksi, hari Sabtu tanggal 13-11-2020 penulis masih sharing tentang kehidupan bersama membahas banyak hal, rumah tangga, ilmu, religi, seni juga tentang tafsiran beberapa ayat Alquran dan juga kisah nabi.

Berdebat sudah biasa bagi seniman, perbedaan pendapat sudah jadi ciri khas namun sore itu closingnya ditutup dengan pertanyaan apa artinya Basmalah maka penulis menjawab Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pertemuan sore itu jadi pertemuan terakhir bagi kami dan beberapa pelukis yang berkumpul di Gallery Kampung Painting milik Irwan Sutanto.

Minggu jam 23.00 Kami dapat telfon bahwa yang bersangkutan akan dibawa oleh ambulance ke RS. Sanglah dalam kondisi sudah meninggal, setelah seharian tidak bisa dihubungi oleh rekan-rekannya.

Hari ini pihak keluarga rencana datang ke Bali, semoga komunitas seniman lukis yang solid di Bali memberikan suport doa dan juga finansial bagi almarhum, yang hari ini jenazahnya dikamar mayat RS.Sanglah Bali .

Bersistirahatlah dengan tenang sang pejuang kehidupan, perjalanan dikehidupan dinia sudah finish. Awal baru perjalanan akhirat menanti lebih berat dan pedih, semuanya tergantung tanaman kehidupan di dunia, akan baik dan aman jika tabungan amal sedekah ada, namun berwujud siksa dan azab jika selalu maksiat dan penuh dosa.

Semoga tenang, lancar dan kembali ke sang maha pencipta, selayaknya gambar lukisan Ka’bah yang tergores dan terekspresikan dengan kuat dan jelas isi hati dari Sang Petarung Ayam tentang nilai hakiki Kerinduannya pada Sang Pencipta.

Inalilkahi Wainailaihi Rojiun. Berkumpul dengan pahlawan keluarga seniman perupa di Pulau Dewata Gallery Kampung Painting Batuan Sukawati Minggu, 23.45 WITA reporter lensa Banyuwangi (Ambarwati Soenarko).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here