Pementasan Teater dengan Judul “ Orang Terasing ”

    0
    101

    Saat ini pandemi Covid-19 membuat sejumlah pertunjukkan teater tidak bisa digelar. Pandemi menghentikan aktivitas seni teater ternyata bisa dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan evaluasi perjalanan teater sambil menyusun langkah membangkitkan pertunjukan ini pada masa normal baru. Meskipun begitu, seni pertunjukkan dalam pementasan teater tidak pernah surut. Di masa pandemi ini, beberapa komunitas teater tetap menunjukkan kreativitasnya dalam berkarya, walaupun banyak keterbatasan dalam proses produksi yang harus dijalani dengan mematuhi protokol kesehatan.

    Salah satunya inisiasi yang dilakukan oleh Inkan Priyo Manunggal selaku sutradara yang menggagas untuk melakukan Pementasan teater dengan judul “ Orang Terasing ”. ini merupakan ide yang digagas oleh Inkan untuk tetap menghidupkan pementasan teater di masa pandemi Covid-19 dan menjadi pementasan teater di masa pandemi. Pementasan teater tersebut dilaksanakan pada Sabtu (9/1/2021) tepatnya pukul 20.00 WIB yang di pentaskan di sanggar Gandrung Arum, dusun Trembelang Cluring Banyuwangi.

    Para tamu undangan yang terdiri dari Pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB), akademisi, pegiat musik, serta pecinta seni menyaksikan Eksistensi Pementasan Teater Halaman Rumah yang berjudul “Orang Terasing” karya Ajie Sudarmadji Mukhsin, penulis naskah teater terkemuka di Jawa Timur. Ini merupakan refleksi yang sangat relevan dari kehidupan di masa pandemi saat ini.  Pada pementasannya kali ini, menggandeng dua artis dan aktor muda berbakat juara monolog nasional yaitu Rohmatulloh dan Syina Dalina.

    Hasan Basri, Ketua DKB menyatakan dalam sambutannya,

    “Kami menyampaikan terima kasih kepada Mas Ingkan dan teater Halaman Rumah yang telah menjaga denyut berkesenian di Banyuwangi tetap hidup di tengah pandemi. Pementasan malam ini sangat istimewa di masa pandemi, peristiwa malam ini merupakan wadah mempererat persaudaraan, terimakasih teater halaman rumah yang mengagendakan, ini menjadi obat dahaga kita setelah beberapa bulan tidak bersua, intinya peristiwa malam ini sangat istimewa,” ungkapnya

    “Para pemain yang terlibat dalam pementasan ini diharapkan dapat memberikan semangat kepada para pegiat seni pertunjukkan dalam berkarya dan menjadi produktif di masa pandemi ini, sehingga kreativitas dalam berkarya lewat seni pertunjukkan dapat terus bergerak dan memberikan dampak yang baik bagi orang lain, “tambah Hasan.

    Punjul Ismuwardoyo selaku Pelaku seni Pertunjukan menilai, seni teater adalah perpaduan dari ragam seni yakni akting, tari, dan musik. Perpaduan seni ini menciptakan sebuah pertunjukkan yang melibatkan banyak orang dan suasana yang langsung bisa dirasakan oleh segenap panca indera penonton. Dengan begitu, eksistensi pementasan teater di masa pandemi ini tetap dapat dirasakan oleh para penonton yang rindu menonton teater. “Teater ini seni yang sifatnya komunal, dari mulai proses hingga selesai. Maka dari itu wajar selama pandemi, teater ini sangat terhambat. Alhasil begitu teater vakum, imbasnya ke semua seni terkait termasuk tari dan musik,” kata Punjul

    Seperti yang disampaikan oleh sastrawan Fatah Yasin Noor, Menonton langsung disini dan sekarang memang tidak sama dengan melihat live via youtubewer. Itu sempat sempat dibahas. Mestinya dalam sesi diskusi fokus kepada pembahasan pertunjukan itu, pesan apa yang terkandung, misalnya, dan apakah narasi tentang kemiskinan ada dalam kenyataan?
    Yang menarik ungkap Fatah adalah narasi “mendapat” dompet tebal dan berat itu, yaitu si istri (pengemis?) yang sedang menggendong anaknya lagi santai di depan kios buku di stasiun, menunjukkan kepada anaknya nama² benda, dan binatang, tiba² perempuan tua kaya meletakkan dompet itu nyaris ditangannya. Kita tafsir itu sebetulnya rezeki, pertolongan Tuhan lewat perempuan tua kaya itu. Artinya, si istri tidak mencuri, dan tak bermaksud mencuri. Masalahnya disini. Tapi suaminya ragu. Akhirnya dompet itu kasihkan polisi, jadi bancaan polisi. Mungkin ini yang dibilang Yons DD suami goblok.”Yang aku risaukan ada paradoks di situ. Orang jujur, religius, takut kepada Tuhan untuk berbuat dosa hidupnya sangat tragis, sengsara, kelaparan, sampai-sampai suami istri itu berniat mengakhiri hidupnya karena beban yang dianggap berat. Ini gak logis, “pungkas Fatah.

    Sementara Inkan Priyo Manunggal menanggapi apa yang disampaikan Fatah, “Terima kasih bapak/Ibu yang sudah berkenan untuk mengapresiasi dan mendukung Karya sederhana kami dan kami selalu mohon bimbingannya , Semoga kami senantiasa istiqomah, ‘jelas Inkan merendah.

    Yang Saya tangkap dari cletukan tersebut adalah pada konsepsi paradigma konflik pak @⁨Fatah Yasin⁩. Saya mencoba memahaminya dengan pendekatan teori sosial nya Hegel, bahwa manusia dipandang sebagai makhluk rasional, Kooperatif, dan juga sempurna. Adanya sebuah integrasi sosial terjadi karena adanya suatu dominasi dan konflik menjadi sebuah instrumen perubahan.
    Saya membaca konteks kematian yg tidak pada ranah statis, teks yg bertulis Lebih baik kita mati saja, Karena sepertinya Tuhan akan Lebih baik daripada orang-orang Di sekitar sini. Pada teks ini Saya membaca Adjie Sudharmadji Muksin sepertinya lebih memfleksibelkan sebuah ritus kematian dalam konteks kehidupan lain.Jika lebih mendetail pada 2 tokoh yang terjadi di panggung , Saya berusaha mencoba menyimbolkan filsafat Konservatif dan Kapitalisme dalam 2 sosok pada peristiwa tersebut.

    Setelah pementasan ditutup dengan diskusi dipimpin oleh Ismail Marzuqi sebagai urun rembug tanpa batas soal kesenian dan budaya Banyuwangi. Meski tanpa batas untuk menjaga bobot diskusi tetap dengan nara sumber Arief Hidayat ,S.Sn , M.Pd dosen teater Unesa Surabaya, H. Bambang Lukito, Wakil Ketua 1 DKB dan Difky Mashady , SAB, owner Musikami Studio. Selain itu para pemuka kesenian Banyuwangi yang terdiri dari berbagai latar belakang ini berkomitmen secara bersama-sama mengawal kemajuan kesenian dimasing-masing bidangnya.(Ilham Triadi)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here