TAHUN BARU, SEMANGAT BARU, TIGA GENERASI BERSAING MERAIH RIDLA ILAHI

    0
    84

    Awal tahun 2021 yang penuh dengan dinamika, khususnya bagi masyarakat perantau yang bermukim diwilayah non muslim seperti di BALI. Bukan hal yang mudah bagi sekelompok komunitas minoritas yang berasal dari berbagai suku,daerah, dengan adat budaya berbeda.

    Segala perbedaan biasanya banyak menimbulkan berbagai macam bentuk permasalahan.Dan itu ditemui dibeberapa tempat dengan kepadatan jumlah penduduk yang tinggi ,tingkat persaingan ekonomi dan juga SDM. Hal yang muncul dikenal dengan sebutan masalah sosial.

    Berdasarkan pandangan umum, yang juga terbukti disekitar tempat perantauan sering muncul gejala-gejalanya ,maka Kampung Santri Bali yang memiliki visi mendidik generasi muslim/muslimah sejati dengan ahklakul karimah yang tinggi, mencoba menerapkan hal wajib dan sunah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist yang dilaksanakan bertahap dan secara istiqomah.

    Setelah membekali santriwan/santriwati dengan dasar ketauhidan, selanjutnya mengajarkan tentang hormat dan cinta kepada kedua orang tua, sebagai bentuk Ridla Allah jika anak hormat dan taat pada kedua orang tuanya.

    Semangat belajar santri rupanya berdampak positif bagi keluarganya. Setelah mereka bisa mempraktekkan hasil belajar ngaji tentang sholat, berdoa, puasa, bershalawat hal tersebut rupanya membawa perubahan dalam kehidupan spiritual dimasing -masing keluarganya.

    Setiap senin-kamisĀ  buka puasa bersama yang didahului shalat magrib berjamaah selalu dipenuhi santri dan orang tuanya.S ebulan sekali pertemuan ngaji istiqosah tepatnya kamis -malam jumat legi/manis, dihadiri bapak, ibu, remaja, anak-anak kurang lebih 75 an. Yang biasanya 100 karena dibatasi hanya sampai 75 saja. Maka dibagi 3 tempat yaitu di ruangan kelas, diteras depan, dan halaman bawah.

    Semua diatur sesuai protokoler yang berlaku (berjarak, cuci tangan, pakai masker, makanan dibawa pulang/box).

    Meskipun dalam keadaan yang serba tidak tentu bagi perantau, disampaikan dalam tauziahnya ustazd Widodo selaku pengasuh, bahwa kita tidak usah ragu,takut dan bimbang, semua sudah diatur oleh Allah. Justru semakin giat ibadah, berdoa, bekerja untuk menghadapinya dengan hati yang ikhlas dan selalu harus bersemangat.

    Menjaga kesehatan dengan makan minum teratur,istirahat cukup, pikiran jangan stress.Semua akan sehat dan bisa menghadapi tantangan kehidupan.Allah tidak membiarkan dan menghendaki kerusakan dan kerugian , kecuali hambanya sendiri yang kurang pandai bersyukur menerima semua ketentuan dari Allah. Mintalah hanya kepada Nya, yang terbaik dan juga berbuat baiklah kepada semua mahluk Allah. Begitu pesan singkatnya yang mengakhiri tauziah ditutup dengan doa saat shaum sunah hari senin, (11-01-2021)

    Para ibu bersemangat juga membagikan ifthor dari Rumah Peduli Anisa dan Wadah Infaq dari Denpasar yang istiqomah menjadi donatur KSB menyalurkan ifthor para muhsinin yang diamanahkan .

    Selain rajin dan semangat mengikuti shaum sunah senin-kamis,para bunda juga belajar mengaji ini dimulai dari hari senin tanggal 04-01-2021. Awalnya mengantarkan menunggui putra- putrinya, kemudian tertarik ikut membaca huruf hijaiyah dan juga menghafalkan doa dan shalawat sebelum dan sesudah belajar.

    Bertambah semangat juga ada Nenek Heni lansia ber usia 67 tahun yang ikut mengaji, shalat, buka puasa tadinya mengantarkan cucunya Anggun, diikuti Ni Made Sri Wahyuni berusia 49 tahun, yang juga mengantar jemput Agus putranya.

    Diiikuti juga oleh Ibu Lia (22 th) yang menunggu putrinya Qiroatul. Tiga generasi ini tidak sungkan lagi belajar bersama anak-anak. Bertambah semangat mereka dengan suport para santri yang juga memback -up bacaan dan hafalan jika ada yang lupa.

    Suasana belajar mengaji /baca Qur’an dengan santai dan serius terlihat begitu menyenangkan. Tidak terasa 3 jam tiap hari yang disempatkan waktunya (08.00-11.00 WITA) akan menjadi tabungan diYaumil Akhir.

    Semangat belajar menjadi lebih baik,mengenal Al Qur’an dan mempelajarinya tidak ada batasan usia dan kata terlambat. Semasih ada kesempatan dan Ridla Allah maka siapapun bisa menjalaninya dengan Ihklas dan dimampukan.

    Semoga perjalanan Kampung Santri Bali yang bermula dari mendidik santri,orang tua,lingkungan akan berbuah dan berdampak luas menjadikan generasi kedepan dipenuhi ahlak yang baik ,sehingga terbina kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sampai Allah menghendaki perjalanan jihad fisabilillah ini ditanah rantau bumi para dewa dan seribu pura…menjadi indah dengan bergema dan berkumandangnya kalimat thayibah.. Subhanallah, Alhamdulillah, Laillaha Illalah, Allahu Akbar. Yang membuat alam sekitarnya Badhatun Thayibatun Warofun Qoffur. (Ambarwati Soenarko).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here