oleh

Mapag Buko dengan Lounching Umyah Limbah dan Bedah Buku di Sopo Isun Cafe

Spread the love

Mapag Buko dengan acara utama Bedah buku Obrolan Lockdown karya Moh. Husen dan Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri seniman, budayawan beberapa aktifis sastra mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Banyuwangi, sastrawan milenial dari berbagai sekolah SMP , SMA dari berbagai komunitas di Banyuwangi. Komunitas milenial pemerhati sastra , Komunitas seniman dan budayawan bersemangat mengikuti awal hingga berakhirnya acara di Sopo Isun Cafe di jalan poros propinsi Kabat Banyuwangi (27/4/2021).

Kafe yang menurut ownernya Badrudin Hidayat berkonsep dari Kabat untuk masyarakat Kabat yang memberdayakan sepuluh anak yatim, karang taruna dan janda miskin, berkeinginan besar untuk menggali potensi desa Kabat untuk menemukan karakternya agar tidak tertinggal dari desa-desa lainnya.Salah satunya yang diinginkan Badrudin adalah selingan Hasbi salah satu pegiat umyah limbah dari komunitas Kabat 24 Jam memanfaatkan waktu menunggu buka puasa juga melaunching Umyah Limbah oleh Sindikat Kabat 24 Jam komunitas ini menerima limbah plastik, kain jeans dan limbah lainnya menjadi karya. Bedah buku ” Obrolan Lockdown ” Karya Moh. Husen dan Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan yang dikemas dengan Gesah budaya itu bertema seputar pembicaraan ngalor- ngidul pada sastra lainnya. Spesial untuk selasa malam rabu , dimulai pukul 16.00 -20.00 Wib.

Suasana petang yang dingin berubah menjadi hangat dalam menyimak pemaparan Penulis bernama Moh. Husen dan Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan dalam mendeskripsikan bukunya hingga dipenuhi pertanyaan para sastrawan pemula dan tanggapan budayawan yang hadir.

Buku yang dibedah karya Moh Husen berjudul ” Obrolan Lockdown ”
Dalam kesempatan ini hadir Efendi dari Lintang Banyuwangi penerbit buku Algoritma Cinta dan beberapa buku lainnya yang dibagikan gratis untuk penanya sebagai pembedah buku sekaligus , Kjn. Ilham Triadi sosok budayawan dan Yeti Chotimah dari Dewan Kesenian Blambangan para serta para milenial pecinta sastra.

Moh. Husen penulis buku Obrolan Lockdown menyatakan “Buku ini temanya sosial yang Saya tangkap dari sesuatu yang ada pada diri saya sendiri,dari kumpulan esay sejak pandemi korona diumumkan pemerintah awal 2020 lalu diterbitkan dan menjadi buku yang ketiga sejak 2019 lalu. Dalam bukunya, pria penggemar karya Emha Ainun Najib ini menawarkan konten mengenai kehidupan sosial dan masyarakat dibalut dengan agama yang berkembang di tengah masyarakat, dengan menggunakan bahasa yang renyah, mudah dipahami pembaca.

Moh. Husen penulis buku Obrolan Lockdown menyatakan menulis bagi dirinya adalah refleksi dari apa yang dilihat, sebuah perenungan dengan melihat dari persfektif yang lain.

” Kehidupan membutuhkan dinamisasi, mengkomparasikan sebuah renungan, misalnya guyonan dengan cara bertutur, ” jlentreh Husen.

Husen menjelaskan , Ia menekankan judul yang ia angkat sekilas memang tentang ketakutan akan korona, namun dalam konteks tidak seutuhnya menyinggung lockdown akibat pandemi korona, melainkan mengacu pada nilai-nilai inspiratif dalam kehidupan sehari-hari sosial bermasyarakat.
“Insyallah ke depan dalam menerbitkan buku berikutnya , dari pengalaman buku sebelumnya Saya menemukan banyak pengalaman yang menjadikan bahan evaluasi Saya, karena setiap seminggu sekali saya menulis melalui media online dan ketika nulis saya reflektif. Ada momen ya saya ikut beropini,” imbuhnya.

Sedangkan Andi Budi Setiawan adalah penulis yang benar-benar menulis. Hampir semua orang bisa menulis. Tapi tidak benar-benar sebagai penulis. Apalagi ingin menjadi penulis lepas, sastrawan lepas, budayawan lepas, penyair lepas. Sebab jadi penulis lepas itu, harus melalui sekian banyak syarat. Penulis lepas itu seperti burung di alam bebas. Andi adalah burung berkicau di alam bebas.

Membaca judul buku Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan saja, tak ada orangtua mengharuskan anaknya yang milenial membaca buku ini. Kaum milenial bacaan yang terhormat adalah satu syarat lain untuk menjadi penulis yang benar-benar penulis.

Efendi dari penerbit Lintang Banyuwangi dalam sambutannya menyebut visi dari kedua penulis adalah untuk meningkatkan semangat literasi untuk penerbitan sebagai pemicu semangat menulis sehingga bagi penulisnya sebagai pemantik untuk terus menghasilkan karya- karya yang best seller , Efendi juga sangat berharap agar audiens mau membeli buku ini sebagai penghargaan “Bukan harga tapi nilainya, agar Moh. Husen dan Andi Budi Setiawan bisa menciptakan karya-karya yang terbaik. Efendi sangat mengapresiasi Obrolan Lockdown dan Algoritms Cinta adalah 2 buku esay dan kumpulan puisi melalui dialog-pemikiran dengan gaya bahasa kekinian, ”jelas Efendi.

Sementara Kjn. Ilham mengapresiasi buku Obrolan Lockdown menyatakan adalah refleksi dari penulis tentang apa yang dilihat, sebuah perenungan dengan melihat dari persfektif yang lain.

“Kehidupan membutuhkan dinamisasi, mengkomparasikan sebuah renungan, misalnya guyonan dengan cara bertutur ” jlentreh Ilham.

Ilham menjelaskan , Husen menekankan judul yang ia angkat sekilas memang tentang ketakutan akan korona, namun dalam konteks tidak seutuhnya menyinggung lockdown akibat pandemi korona, melainkan mengacu pada nilai-nilai inspiratif dalam kehidupan sehari-hari sosial bermasyarakat.

Untuk buku Kumpulan 99 Puisi dalam buku Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan Kjn. Ilham menyebutnya , adalah rangkaian kata-kata yang tak selalu mengandung makna. Selebihnya, sebagian besar, mengandung pesan, kata- kata harus dimainkan. Dan bahasa mengandung bunyi, menulis menjadi asik, bahwa kata-kata, di samping mengantarkan pengertian, ia pun menyimpan banyak makna. “Rangkaian puisi Andi adalah rangkaian kata dalam bahasa yang utuh. Gaya bahasanya menjadi kebiasaan yang tetap, mengalir seperti sungai yang bening dan laut lepas. Tapi kita pun merasakan ada jeda untuk menarik nafas, Jeda itu sebentuk informasi tentang pemikiran tentang cinta. Dalam proses menulis, ada ingatan pada penulis lain, juga sekian tempat dan peristiwa. Andi Budi Setiawan terasa begitu mudah memungut kenangan, “pungkas Ilham.(I. Panji Blambangan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed