oleh

PENGUSAHA SAYUR-MAYUR ASAL DESA BARENG KECAMATAN KABAT MENGUASAI PASAR BALI

-Berita, Ekbis-156 views
Spread the love

Banyuwangi (27/04/2021), memulai dari yang kecil untuk siap menjadi sesuatu yang besar. Mungkin ungkapan itu cocok sekali dengan yang dialami oleh Syahri (51 th), asal dusun Tembelang, Bareng, kecamatan Kabat. Bapak dua anak itu kepada wartawan menuturkan kisah perjalanan hidupnya dan juga bagaimana ia memulai usaha sayur-mayur yang digelutinya hingga kini.

Pada sekitar tahun 1990an, Syahri yang awalnya adalah petani semangka itu mengalami pasang surut dan kelesuhan saat harga dan hasil tanaman semangka tak menentu. Lalu ia awalnya iseng-iseng berjualan sayur di pasar Rogojampi dengan mengayuh sepeda onthel. Dari situlah kemudian ia merasa cocok dengan usaha jualan sayur itu sehingga ketika seorang temannya meminjaminya sepeda motor kala itu maka Syahri memberanikan diri berjualan sayur dipasar Banyuwangi. Untuk mendapatkan sayur segar, kala itu ia cukup mengambil dari petani-petani di desa sekitaran Bareng saja. Namun berangsur-angsur Syahri mulai mengenal seluk beluk bisnis sayur yg ia geluti. Lalu dengan berbekal tekad kuat dan pengetahuan yang ia dapatkan kala itu,dari Tabungannya ia ahirnya membeli sebuah mobil pikup untuk mengembangkan usahanya ke pasar di wilayah Negara- Bali.

Di Negara-Bali, kala itu Syahri masih ngecer dari satu pedagang ke pedagang kecil disana. Namun seiring waktu, karena kegigihannya dan keuletannya, ahirnya Syahri berhasil menaklukkan pasar-pasar di wilayah Negara-Bali. Hingga ahirnya ia mampu membeli sebuah mobil pikup lagi sebagai armadanya. Dan kembali usaha sayur- mayurnya merambah wilayah Singaraja-Bali. Maka sejak itu semakin gemilanglah bintang kehidupannya.

Syahri berhasil membuktikan dirinya sebagai pengusaha sayur-mayur yang sukses. Dari hasil usaha sayur-mayurnya ia dan istrinya mendaftar Haji kala itu,walaupun sudah sepuluh tahun ini tak juga dipanggil untuk pemberangkatan, padahal konon ia dijadwalkan berangkat 8 tahun setelah pendaftaran.

Kini bisnis sayur –mayur yang sudah mapan milik Syahri, dikelola oleh anaknya. Sementara untuk stok sayur, ia cukup menerima dari teman-teman pengepul yang setor ke rumahnya. Syahripun Nampak menikmati hidup dimasa tuanya, dengan nyambi momong cucu, setiap hari ia mengawasi 15 pekerja yang mencari penghidupan ditempat bisnisnya tersebut. Ketika ditanya tentang Bantuan dari pemerintah, Syahri menjawab tak pernah mengerti tentang hal-hal bernama bantuan tersebut. Prinsipnya hampir sama dengan para pelaku Usaha Mandiri yang selama ini saya temui, yaitu menjalani apa yang mereka yakini dengan sabar dan tak putus asa serta ikhlas dalam menjalaninya, tanpa berharap bantuan itu datang/ada atau tidak. Orang Indonesia memang mental Baja.(BM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed